‚Äčapakah kita berjalan di dunia yang berputar?

disebabkan: yosea arga pramudita . . pertemuan kita disebabkan cinta yang tidak berkesudahan. dan akhirnya nanti, kau menemukan rumah kurcaci. ingatanmu ada di barisan rel kereta listrik yang menjungkal karena terdesak waktu. kita berlari antara dunia digital yang memisahkan tubuh dan bahasa program yang tidak kita mengerti. kita duduk di depan layar dan kau berkata: "gila, … Continue reading ‚Äčapakah kita berjalan di dunia yang berputar?

Advertisements

Jurnalisme Sastrawi dari Pemula untuk Pemula

Oleh: Sucipto Jika saya tidak salah ingat waktunya, di hari terakhir bazar buku Sketsa kemarin, Ganta menghampiri saya dan minta rekomendasi pembicara untuk materi Pendidikan Tingkat Lanjut LPM Sketsa. Saya usul Andreas Harsono. Ia salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen. Pria Hoakiao ini pernah mendapat Nieman Fellowship for Journalism di Harvard, beasiswa bagi wartawan untuk … Continue reading Jurnalisme Sastrawi dari Pemula untuk Pemula

Melihat Cerita Pendek Indonesia di Keramaian Dunia Maya

Oleh: Sucipto Godaan penulis hari ini adalah keramaian. Kurang lebih begitu kata cerpenis Agus Noor dalam sebuah wawancara dengan Kompas yang diunggah di youtube. Dulu, sebelum riuhnya internet hadir di genggaman kita, hal mengerikan bagi seorang penulis adalah kesepian. Kita bisa tengok naskah pidato Orhan Pamuk untuk ceramahnya saat penghargaan Nobel Sastra 2006. Dalam pidatonya … Continue reading Melihat Cerita Pendek Indonesia di Keramaian Dunia Maya

Yogyakarta, Fiksi, dan Buku

Bulan lalu saya berkunjung ke Yogyakarta untuk belajar menulis Fiksi. Saya memang sedang belajar menulis cerita pendek belakangan ini. Ketika saya masih menjabat sebagai pemimpin umum LPM Sketsa Unsoed (2014), saya sempatkan menulis cerita di sela-sela urusan organisasi dan kuliah. Cerita pendek pertama saya, sebenarnya saya buat untuk mengisi rubrik sastra di majalah tahunan Sketsa. … Continue reading Yogyakarta, Fiksi, dan Buku

#3 – TORA

Oleh Sucipto & Larasati Ia seperti cahaya. Namun teduh. Cahaya yang tidak berlebihan. Aku belum pernah melihat tatapan seperti itu. Entah kenapa tatapan itu begitu berbeda. Tubuhku menggigil, dan perlahan-lahan gelap datang. Ia duduk di bangku putih. Pakaiannya serba putih. Ia menengok ke arahku. Aku seperti begitu mengenal mata itu. Ia seperti sangat dekat denganku. … Continue reading #3 – TORA